Ada masa ketika hidup berubah bukan karena rencana, tetapi karena keputusan yang harus diambil. Tahun ini, hidupku berubah cukup banyak. Ada hal-hal yang harus kulepaskan, ada rutinitas yang harus kubangun ulang, dan ada kondisi finansial yang ikut terguncang. Di tengah semua itu, aku justru memutuskan mendaftar kuliah lagi di Universitas Terbuka, ambil jurusan Administrasi Bisnis.
Iya, aku sudah punya satu gelar sebelumnya, karena aku sudah sempat kuliah di Arsitektur. Selesai dalam 5.5 tahun, hasilnya juga enggak mengecewakan. Bahkan, aku salah satu dari 40% lulusan terbaik dari Fakultas Teknik.
Terus, kenapa ambil kuliah lagi? Mana beda banget, jurusannya. Nyasar ya, pas masuk Arsitektur?
Hehe iya. Sepertinya memang nyasar, salah jurusan. Tapi dulu sebenarnya memang cita-citanya pengin bikin bisnis keluarga, karena abang-abangku anak-anak Sipil. Ya, kan pas, mereka Sipil aku arsitektur.
Tapi, ya gitu deh. Namanya hidup, enggak ada yang tahu.
Setelah Hidup Berubah, Aku Bertanya, "Sekarang Mau Dibawa ke Mana?"
Lalu, balik lagi ke pertanyaan, kenapa kuliah lagi? Salah satu alasannya, karena aku baru tahu bidang yang memang pengin aku dalami sekarang. Sementara itu, ada lasan lain yang juga tak kalah penting, karena di tahun ini, hidupku memang sedang buanyak sekali berubah.
Setelah melewati beberapa hal yang cukup menguras tenaga, aku menyadari satu hal. Hidup itu enggak otomatis menjadi lebih baik hanya karena kita berhasil melewati masa sulit. Setelah badai berlalu, tetap ada pekerjaan yang harus dilakukan. Tetap ada hidup yang harus dijalani. Tetap ada masa depan yang perlu dibangun.
Aku bisa saja berhenti di fase survival mode terus. Jalan aja hari demi hari, kerja, cari duit, gituuu terus, diulang-ulang. Sampai mati.
Tapi enggak.
Aku merasa, kalau memang harus memulai lagi, sekalian saja kubangun fondasinya.
Karena aku seharusnya enggak cuma harus memperbaiki keadaan hari ini. Tetapi, aku juga harus mempersiapkan diri untuk beberapa tahun ke depan. Demi apa? Demi keluargaku; anak-anakku dan ibuku.
Padahal, dari sisi finansial, aku juga masih nyusruk. Kehilangan beberapa hal sekaligus, soalnya. Tahun 2024-2026 ini memang luar biasa deh. Entah apa yang terjadi di semesta.
So, mungkin keputusanku ini kedengaran terlalu optimistis untuk seseorang yang kondisi finansialnya belum benar-benar stabil. Nyaris setiap hari, aku selalu itung-itung pengeluaran, selalu mempertimbangkan setiap keputusan belanja, dan sesekali bertanya dalam hati apakah langkah ini terlalu berani. Terutama, jangan-jangan semester depan aku gak bisa beli modul lagi.
Namun aku juga tahu, menunggu semuanya sempurna mungkin berarti enggak akan pernah memulai.
Kenapa Memilih Administrasi Bisnis?
Belakangan, aku juga membuka usaha kecil.
Warungku bukan tempat yang mewah. Aku melayani print dan fotokopi, menjual sembako, makanan ringan, mi instan, minuman, sampai beberapa menu sederhana yang bisa dinikmati pelanggan. Warung itu masih jauh dari kata besar. Bahkan sampai hari ini, aku masih belajar memahami ritmenya.
Ada hari ketika pelanggan datang silih berganti.
Ada hari ketika warung sepi, tak sampai 10 transaksi.
Ada produk yang cepat habis.
Ada juga yang ternyata enggak jalan sesuai harapan.
Semakin lama menjalaninya, aku semakin sadar bahwa mengelola usaha ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar membuka pintu setiap pagi dan menunggu pembeli datang.
Dalam usaha yang seuprit ini, ada soal pemasaran. Aku juga ngulik soal pelayanan, gimana aku bisa kasih servis bagus tapi juga tegas. Lalu stok barang, kapan aku harus restock, kapan barang dibiarkan habis dulu. Belum lagi soal pencatatan keuangan, dan juga berusaha memahami kebutuhan pelanggan.
Warungku memang baru setahun. Dan selama ini aku belajar dari pengalaman, dari kesalahan, dan dari banyak percobaan. Cara itu memang mengajarkanku banyak hal, tetapi aku ingin memahami semuanya dengan lebih terstruktur.
Itulah kenapa akhirnya aku memilih Administrasi Bisnis.
Aku enggak sedang mengejar gelar. Aku enggak peduli kapan kuliah ini selesai. Setiap semester, aku pun cuma ambil satu mata kuliah. Kadang, satu modul pun enggak habis kubaca dalam satu tahun. Ujian? Ya, kalau mood. Hahahaha.
Karena, aku sedang mencari bekal. Bukan sekadar nilai IPK. Aku sudah enggak butuh IPK.
Hal-Hal yang Kusadari Saat Memutuskan Kuliah Lagi
Semakin kupikirkan, ada beberapa pelajaran yang mulai kusadari selama proses mengambil keputusan ini.
1. Hidup enggak selalu memberi kesempatan untuk memulai dari kondisi yang ideal
Sering kali kita membayangkan akan melakukan sesuatu setelah semuanya beres. Setelah tabungan cukup. Setelah pekerjaan stabil. Setelah masalah selesai.
Sayangnya, life doesn’t work that way.
Kadang kita memang harus mulai sambil berjalan tertatih. Enggak apa-apa kok mulai dari kondisi yang enggak sempurna.
2. Memulai lagi bukan berarti kembali menjadi orang yang sama sekali baru
Memang ada banyak hal yang berubah dalam hidupku. Banyak. Banget. Dan, enggak semuanya bawa dampak positif.
Tapi yang namanya pengalaman tetap ada.
Pengalaman menjadi penulis.
Pengalaman menghadapi klien.
Pengalaman menjalankan usaha kecil.
Semua itu aku bawa ke titik awal yang baru. Mungkin aku memang sedang memulai lagi, tetapi aku tahu, aku enggak benar-benar kembali ke nol. Hanya saja, arahnya berubah.
3. Aku ingin membangun sesuatu, bukan cuma bertahan
Ada fase dalam hidup ketika targetnya memang hanya satu, bisa melewati hari ini. Karena untuk berpikir jangka panjang, sudah enggak sanggup lagi.
Enggak salah. Bahkan itu bagus buat otak anxiety seperti otakku.
Tapi aku juga enggak pengin berhenti di situ aja. Aku pengin perlahan-lahan membangun sesuatu yang bisa berkembang. Entah itu usahaku, kemampuanku, atau cara berpikirku.
4. Belajar membuatku merasa masa depan masih terbuka
Circa 2024-2025, aku merasa masa depan tertutup rapat untukku. Tapi dengan kuliah lagi, rasanya ada sesuatu yang kembali terbuka.
Setiap kali membaca materi kuliah, aku enggak merasa hanya sedang belajar untuk ujian. Tapi, aku sedang mengumpulkan potongan-potongan pengetahuan yang suatu hari bisa kupakai untuk mengambil keputusan yang lebih baik. Nanti, besok, atau kapan pun.
Barangkali hasilnya enggak langsung terlihat. Tapi aku percaya enggak ada proses belajar yang benar-benar sia-sia.
5. Usaha kecil tetap layak dikelola dengan serius
Warung kecilku mungkin enggak menghasilkan miliaran rupiah. Sudahlah ukurannya kecil, di tengah kampung lagi.
Namun tetap ada pelanggan yang harus dilayani dengan baik. Juga tetap ada uang yang harus dikelola dengan benar. Pun, tetap ada strategi yang harus dilakukan.
Jadi, justru karena masih kecil, aku pengin belajar mengelolanya dengan lebih baik sejak sekarang.
6. Aku enggak ingin rasa takut menentukan semua keputusan dalam hidupku
Aku tetap punya banyak kekhawatiran. Otak anxiety-ku ini benar-benar enggak bisa berhenti berputar.
Aku takut enggak bisa membagi waktu, takut kewalahan, takut kondisi keuangan belum membaik, takut ternyata enggak mampu menjalani semuanya sekaligus.
Tapi aku lebih takut lagi kalau lima tahun dari sekarang aku menyesal karena terlalu lama menunggu keadaan menjadi sempurna.
Warung Kecil Ini Menjadi Tempat Belajarku
Ada satu hal yang paling membuatku bersemangat. Aku merasa kuliah ini enggak akan berhenti di ruang kelas. Setiap mata kuliah yang kupelajari nanti punya kesempatan untuk langsung bertemu dunia nyata.
Kalau belajar pemasaran, aku bisa mencoba menerapkannya di warung. Kalau belajar manajemen operasional, aku bisa mulai memperbaiki cara mengatur stok. Kalau belajar keuangan, aku bisa lebih disiplin mencatat pemasukan dan pengeluaran. Kalau belajar perilaku konsumen, aku bisa mengamati kenapa pelanggan memilih satu produk dan mengabaikan produk yang lain.
Ya, warung kecilku mungkin enggak sebesar Kopdes Merah Putih. Tapi justru di sinilah tempat belajar yang paling nyata.
So, kalau ditanya, jujur, aku gak tahu akan seperti apa hidupku beberapa tahun lagi.
Aku enggak tahu apakah warung ini akan berkembang, apakah kuliahku akan berjalan mulus, atau apakah semua rencana yang kususun hari ini benar-benar akan terwujud.
Yang kutahu, aku enggak mau hidupku hanya diisi dengan usaha bertahan.
Aku ingin terus membangun, sedikit demi sedikit.
Kalau suatu hari nanti aku membaca tulisan ini lagi, semoga aku bisa tersenyum dan mengingat bahwa semuanya pernah dimulai dari masa yang enggak mudah.
Dan mungkin, keputusan terbaik yang pernah kuambil bukanlah kuliah lagi. Melainkan memilih untuk enggak berhenti membangun hidup, bahkan ketika hidup sedang mengharuskanku memulai dari awal.
Aku memilih tetap melangkah.












